Library Lite Februari 2026

Sleman, 26 Februari 2026

Bulan Ramadhan menambah semangat ibu bapak di lingkungan Perpustakaan UII untuk terus menambah wawasan melalui kegiatan Library Lite. Pada kesempatan kali ini, Mufida Nuf Arifah bertindak sebagai penceramah, sementara materi disampaikan oleh Akmal Faradise.

Al-Fatihah secara harfiah memiliki arti “pembukaan”. Surah ini juga dikenal sebagai Sab’ul Matsaani, yakni tujuh ayat yang diulang-ulang dalam setiap rakaat shalat. Selain itu, Al-Fatihah memiliki sebutan lain, yaitu Al-Waafiyah wa Al-Kaafiyah, karena kandungannya dinilai merangkum pokok-pokok ajaran yang terdapat dalam surat-surat lain di dalam Al-Qur’an.

Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat yang memuat pokok ajaran Islam, meliputi aqidah, ibadah, dan manhaj (pedoman) hidup. Surah ini tergolong Makkiyyah karena diturunkan di Kota Makkah. Fungsi Surah Al-Fatihah ialah sebagai doa pokok sekaligus pembuka shalat, Al-Fatihah menempati posisi sentral dalam ibadah harian umat Islam. Surah ini dibaca pada setiap rakaat shalat dan memuat permohonan seorang hamba agar senantiasa diberikan petunjuk menuju jalan yang lurus oleh Allah SWT.

Begitu istimewanya Surah Al-Fatihah hingga menjadi rukun shalat. Oleh karenanya sangat penting untuk dipelajari dan dipahami maknanya. Dalam pemaparannya, Mufida menjelaskan hukum tajwid dalam Surah Al-Fatihah meliputi mad dan waqf. Ia menekankan pentingnya memperhatikan harakat, menjaga konsistensi panjang pendek bacaan (mad), serta memastikan ketepatan makhorijul huruf dalam setiap bacaan.

“Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas bacaan adalah dengan rutin mendengarkan murottal sebagai sarana evaluasi agar pelafalan sesuai dengan kaidah tajwid yang benar.” tutup Mufida.

Materi Libraty Lite kali ini dibawakan oleh Akmal Faradise yang mengangkat tema “Library Shifting Paradigm”. Pada awal pemaparannya, Akmal mengajak peserta menengok kembali sejarah perpustakaan Islam yang pernah mencapai masa keemasan pada era Dinasti Abbasiyah, khususnya melalui Baitul Hikmah.

Akmal bercerita bahwa produksi dan distribusi ilmu pengetahuan pada masa tersebut berkembang pesat hingga membentuk iklim akademik kolektif yang mendorong lahirnya berbagai pusat pendidikan. Kondisi itu tidak terlepas dari dukungan dan perhatian penuh kekhalifahan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. “Mungkin kita bisa menjadikan Baitul Hikmah sebagai benchmark untuk perkembangan perpustakaan ke depan,” ujar Akmal.

Perpustakaan telah melewati berbagai zaman dan mengalami banyak perubahan. Paradigma perpustakaan pun terus bergeser, dimulai dari era koleksi, era akses, era pengguna (user), era pengalaman (experience), hingga kini memasuki era makerspace. Pada era koleksi, perpustakaan dianalogikan sebagai gudang, yakni tempat menyimpan buku. Memasuki era akses, perpustakaan diibaratkan sebagai supermarket. Terlihat pada fase ini mulai berkembang katalog daring, digitalisasi koleksi, dan kehadiran e-book sehingga informasi lebih mudah ditemukan serta mulai terbangun interaksi dua arah.

Selanjutnya, pada era pengguna, fokus layanan beralih kepada kebutuhan dan kepuasan pemustaka. Era berikutnya adalah era experience, yang dianalogikan seperti restoran, di mana perpustakaan mengedepankan kenyamanan sosial, seperti tersedianya co-working space. Pergeseran ini menandai transformasi perpustakaan dari sekadar penyedia informasi menjadi ruang interaksi dan pengalaman belajar.

Kemudian di era makespace, yang menjadi fokus utamanya adalah memberdayakan pengguna untuk menciptakan (making) pengetahuan atau karya baru. Fasilitas seperti 3D printer, studio podcast, alat coding, dan ruang inovasi menjadi bagian dari layanan era ini.

Akmal turut membagikan salah satu pengalamannya saat berkunjung ke sebuah perpustakaan khusus di Malaysia yang telah menerapkan konsep makerspace. “Perpustakaan itu membuka kelas setiap akhir pekan bagi anak-anak sekolah untuk belajar robotik. Jadi tidak hanya belajar teori, tetapi tersedia perangkat keras yang bisa mereka rakit selama proses pembelajaran berlangsung,” tuturnya.

Melalui kegiatan Library Lite ini, diharapkan semangat belajar dan refleksi terus tumbuh di lingkungan Perpustakaan UII, baik dalam pendalaman nilai-nilai keislaman maupun dalam pengembangan layanan perpustakaan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Kontributor: Husna Amalina Sholihah

Editor: Akmal Faradise